Topik atau isu di lingkungan TNI AU yang bisa ‘dijual’ kepada media sehingga kegiatan TNI AU banyak diliput oleh media :
Peran media masa sangat besar dalam membangun sebuah Citra yang positif, baik terhadap perseorangan atau terhadap suatu instansi/ organisasi. Citra TNI yang lemah dimata masyarakat saat ini, perlu dibangun dengan membentuk suatu opini masyarakat dan kondisi pencitraan yang positif terhadap peran dan fungsi TNI diera reformasi. Langkah utama yang bisa ditempuh saat ini adalah, pendekatan kepada masyarakat dan memberikan tindakan yang nyata dapat dilakukan.
a. Internasional Air Show. Kegiatan air show yang diselenggarakan secara static maupun aerobatik sudah tentu merupakan potensi yang sangat besar bagi TNI Angkatan Udara untuk menarik minat dan perhatian masyarakat luas, tidak hanya dalam negeri namun juga dapat sampai ke luar negeri. TNI AU harus mencontoh Singapura yang selalu mengadakan air show secara berkala, sehingga TNI AU Singapura menjadi pusat perhatian masyarakatnya.
b. Kegiatan Olahraga Dirgantara. Sudah selayaknya TNI AU melalui FASI segera memanfaatkan potensi ini sehingga TNI AU dapat dikenal masyarakat melalui kegiatan olah raga dirgantara yang digabung dengan promosi pariwisata. Sebagai contoh, kegiatan ini pernah dilaksanakan di Pulau Samosir Sumatera Utara, dimana pernah diadakan kejuaraan nasional olah raga dirgantara yang melibatkan FASI, Binpotdirga dan pemerintah daerah setempat. Saat ini pusat olahraga dirgantara di Lido, Bogor, Jawa Barat sudah siap dikembangkan menjadi pusat olahraga dirgantara dan pariwisata. Perlu dukungan dari TNI AU dan pemerintah secara serius untuk pengembangan dan promosinya.
RAHASIAc. Latihan TNI AU. Kegiatan latihan, baik mandiri maupun gabungan dapat dijadikan sarana promosi dan penangkap potensi minat dirgantara masyarakat. Seperti pernah dilaksanakan Air Fire Demo di AWR Budding Tanjung Pandan yang cukup menyedot perhatian masyarakat dan kalangan wartawan baik cetak maupun elektronik.
d. Pengadaan Alutsista Udara. Kegiatan perencanaan penagdaan alutsista udara merupakan daya tarik yang bisa dijual ke masyarakat Indonesia. Karena tidak dapat dipungkiripesawat tempur, seperti rencana penambahan pesawat Sukhoi dan penggantian pesawat OV-10 Bronco yang sering diulas di media massa
Upaya peningkatan citra TNI AU sangat bergantung pada optimalisasi peran Public Relations atau Dinas penerangan dalam menjalankan tugasnya. Disamping melalui media, TNI AU harus melakukan komunikasi langsung kepada public melalui action (tindakan) yang menyentuh kepentingan masyarakat dan melibatkan publik. Melaksanakan kegiatan sosial yang langsung berhubungan dengan masyarakat sekitar seperti halnya sunnut missal dan pengobatan gratis, Mengadakan acara menarik seperti drag race, konser music, berbagai acara dengan berbagai macam hadiah dan lain sebagainya.Tampil di acara televisi seperti “Target dan Strategi” yang menampilkan profil satuan-satuan di jajaran TNI AU. Karena sebenarnya alutsista udara sangat menarik bagi masyarakat Indonesia terutama penggunaan pesawat tempur yang canggih. Serta dengan mengirimkan iklan tentang penerimaan prajurit TNI AU sampai ke pedesaan.
Kamis, 30 April 2009
Studi Kasus
3. Studi Kasus. Pada acara sertijab Kasau (Bintang 4), Dispenau mengundang wartawan untuk meliput kegiatan yang tentu saja menurut kalangan TNI AU sangat penting. Namun ternyata jumlah wartawan yang hadir jauh lebih banyak pada acara sertijab Kapolda jaya (Bintang 2) :
a. Beberapa metode yang digunakan untuk menganalisa berita, yaitu analisis isi (content analysis), analisis bingkai (frame analysis), analisis wacana (disccourse analysis), dan analisis semiotik (semiotic analysis). Semuanya memiliki tujuan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan target pelaku analisis. Terdapat lima fungsi utama pers yang berlaku secara universal yaitu: Informasi (to inform), Edukasi (to educate), Koreksi (to influence), Rekreasi (to entertain), Mediasi (to mediate). Pemberitaan mengenai kenaikan pangkat pejabat tertentu di kalangan TNI AU dilihat dari sisi publisitas, universalitas dan objektivitas tidak sama dengan karakteristik pemberitaan yang lain. Pemberitaan tersebut memang tidak akan sama porsinya di setiap media, apalagi skala coverage kedua media di atas adalah lingkup nasional dan pada saat yang bersamaan ada pemberitaan lain yang lebih menarik dan informatif untuk diliput.
b. Pemberitaan mengenai sertijab Kapolda Jaya jauh lebih dekat secara emosional dan sosial dibandingkan dengan pemberitaan sertijab KASAU. Di dalam struktur sosial masyarakat, posisi Kapolda Jaya sifatnya lebih dekat kepada semua lapisan masyarakat, semua orang lebih mengenal tugas Kapolda Jaya yang memiliki pengaruh langsung terhadap masyarakat sehingga dapat memenuhi karakteristik universalitas. Di lain pihak banyak sekali unsur-unsur masyarakat yang sangat berkepentingan terhadap pejabat kepolisian maupun pejabat pemerintah, karena bersinggungan langsung dengan berbagai kebutuhan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berbeda jauh dengan pejabat TNI AU yang tidak bersinggungan langsung dengan kepentingan masyarakat. Media massa tentunya akan memilih berita yang mempunyai nilai pasar lebih dan memiliki nilai jual yang lebih, karena media massa saat ini sudah berorientasi terhadap factor ekonomi.
c. Efek merupakan salah satu penyebab seseorang berbuat sesuatu, begitu pula yang terjadi di masyarakat. Sesuatu yang memberikan efek khusus akan mendapat perhatian khusus pula, sedangkan yang tidak banyak efeknya tentunya akan tidak banyak mendapat perhatian di masyarakat. Perubahan Pejabat atau Jabatan di TNI AU tidak begitu memberikan efek khusus terhadap pola dan struktur yang terjadi di masyarakat. Berbeda dengan sertijab pejabat kepolisian atau pemerintah daerah yang kebijakannya akan dapat dirasakan secara langsung pada kehidupanmasyarakat. Di instansi kepolisian maupun pemerintah daerah, fungsi bagian penerangan atau humas sangat diperhatikan pembinaannya, sehingga mereka lebih mudah mengadakan penggalangan terhadap media massa.
d. Pada instansi militer biasanya keamanan lebih menjadi prioritas, sehingga akan terjadi tindak keamanan yang cukup serius apabila seorang sipil memasuki atau berhubungan dengan instansi militer. Contohnya dalam hal peliputan wartawan diwajibkan untuk mempunyai tanda pengenal atau tanda masuk, dilengkapi surat ijin dsb, sehingga secara psikologis manusia tidak senang menghadapi kesulitan atau persoalan yang berbelit-belit. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada antusiasme wartawan, sehingga dalam sertijab Kasau wartawan tidak sebanyak pada sertijab Kapolda, dimana pada sertijab Kapolda wartawan sudah terbiasa meliputi setiap kegiatan kerja mereka tanpa perlu tanda pengenal atau tanda masuk.
e. Di instansi kepolisian setiap kegiatan selalu bekerjasama dengan wartawan, seperti kegiatan tindakan penangkapan gembong teroris, acara patroli, sergap dan lain lain, dimana wartawan membutuhkan berita yang didapat dari kepolisian, polisi membutuhkan wartawan untuk publikasi, sementara TNI AU dalam setiap kegiatannya jarang bekerjasama dengan wartawan. Hal ini berpengaruh dalam acara sertijab Kasau maupun Kapolda.
a. Beberapa metode yang digunakan untuk menganalisa berita, yaitu analisis isi (content analysis), analisis bingkai (frame analysis), analisis wacana (disccourse analysis), dan analisis semiotik (semiotic analysis). Semuanya memiliki tujuan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan target pelaku analisis. Terdapat lima fungsi utama pers yang berlaku secara universal yaitu: Informasi (to inform), Edukasi (to educate), Koreksi (to influence), Rekreasi (to entertain), Mediasi (to mediate). Pemberitaan mengenai kenaikan pangkat pejabat tertentu di kalangan TNI AU dilihat dari sisi publisitas, universalitas dan objektivitas tidak sama dengan karakteristik pemberitaan yang lain. Pemberitaan tersebut memang tidak akan sama porsinya di setiap media, apalagi skala coverage kedua media di atas adalah lingkup nasional dan pada saat yang bersamaan ada pemberitaan lain yang lebih menarik dan informatif untuk diliput.
b. Pemberitaan mengenai sertijab Kapolda Jaya jauh lebih dekat secara emosional dan sosial dibandingkan dengan pemberitaan sertijab KASAU. Di dalam struktur sosial masyarakat, posisi Kapolda Jaya sifatnya lebih dekat kepada semua lapisan masyarakat, semua orang lebih mengenal tugas Kapolda Jaya yang memiliki pengaruh langsung terhadap masyarakat sehingga dapat memenuhi karakteristik universalitas. Di lain pihak banyak sekali unsur-unsur masyarakat yang sangat berkepentingan terhadap pejabat kepolisian maupun pejabat pemerintah, karena bersinggungan langsung dengan berbagai kebutuhan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berbeda jauh dengan pejabat TNI AU yang tidak bersinggungan langsung dengan kepentingan masyarakat. Media massa tentunya akan memilih berita yang mempunyai nilai pasar lebih dan memiliki nilai jual yang lebih, karena media massa saat ini sudah berorientasi terhadap factor ekonomi.
c. Efek merupakan salah satu penyebab seseorang berbuat sesuatu, begitu pula yang terjadi di masyarakat. Sesuatu yang memberikan efek khusus akan mendapat perhatian khusus pula, sedangkan yang tidak banyak efeknya tentunya akan tidak banyak mendapat perhatian di masyarakat. Perubahan Pejabat atau Jabatan di TNI AU tidak begitu memberikan efek khusus terhadap pola dan struktur yang terjadi di masyarakat. Berbeda dengan sertijab pejabat kepolisian atau pemerintah daerah yang kebijakannya akan dapat dirasakan secara langsung pada kehidupanmasyarakat. Di instansi kepolisian maupun pemerintah daerah, fungsi bagian penerangan atau humas sangat diperhatikan pembinaannya, sehingga mereka lebih mudah mengadakan penggalangan terhadap media massa.
d. Pada instansi militer biasanya keamanan lebih menjadi prioritas, sehingga akan terjadi tindak keamanan yang cukup serius apabila seorang sipil memasuki atau berhubungan dengan instansi militer. Contohnya dalam hal peliputan wartawan diwajibkan untuk mempunyai tanda pengenal atau tanda masuk, dilengkapi surat ijin dsb, sehingga secara psikologis manusia tidak senang menghadapi kesulitan atau persoalan yang berbelit-belit. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada antusiasme wartawan, sehingga dalam sertijab Kasau wartawan tidak sebanyak pada sertijab Kapolda, dimana pada sertijab Kapolda wartawan sudah terbiasa meliputi setiap kegiatan kerja mereka tanpa perlu tanda pengenal atau tanda masuk.
e. Di instansi kepolisian setiap kegiatan selalu bekerjasama dengan wartawan, seperti kegiatan tindakan penangkapan gembong teroris, acara patroli, sergap dan lain lain, dimana wartawan membutuhkan berita yang didapat dari kepolisian, polisi membutuhkan wartawan untuk publikasi, sementara TNI AU dalam setiap kegiatannya jarang bekerjasama dengan wartawan. Hal ini berpengaruh dalam acara sertijab Kasau maupun Kapolda.
Agenda setting
2. Pendekatan Teori Agenda Setting dalam Membandingkan Suara Pembaruan dan Republika.
a. Teori Penentuan Agenda (Agenda Setting Theory) merupakan teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa dan juga dapat dianggap sebagai kemampuan media massa untuk menyampaikan kepentingan dari berita-berita yang ada didalam agenda mereka terhadap agenda yang ada didalam masyarakat. Berbagai level dari Agenda Setting adalah :
1) Agenda setting tingkat pertama. Pada level ini media menggunakan obyek atau permasalahan untuk mempengaruhi masyarakat. Pada level ini media menyarankan kepada masyarakat apa yang mereka harus pikirkan.
2) Agenda setting tingkat kedua. Pada level ini media memfokuskan diri terhadap karakteristik dari suatu obyek atau masalah tertentu dan media juga menyarankan kepada masyarakat bagaimana mereka harus berpikir terhadap masalah tersebut. Ada dua tipe atribute yang digunakan, kognitif (substansi atau topik) dan afektif (evaluatif atau positif, negatif, netral).
b. Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep penentuan agenda adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal. Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang penentuan agenda adalah:
1) Masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu.
2) Konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain.
c. Pada salah satu edisinya, “Republika” memuat laporan mendalam tentang diadukannya ke polisi seorang tokoh muslim yaitu Presiden PKS Tifatul Sembiring, terkait dengan pelanggaran kampanye pemilu lebih awal dalam demo anti Israel atas serangan ke Jalur Gaza, dengan sudut pandang “membela” Tifatul. Harian “Republika” merupakan tipe Pers Berkualitas. Penerbitan surat kabar ini akan mampu menampilkan cara penyajian yang etis, moralis intelektual. “Republika” sangat meyakini pendapat : kualitas dan kredibilitas media hanya bisa diraih melalui pendekatan profesionalisme secara total. Menurut landasan teori Agenda Setting, “Republika” mampu untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada peristiwa tertentu atau gagasan tertentu sehingga dapat menjadi agenda bagi masyarakat. Agenda itu sendiri harus diformat, proses ini akan memunculkan masalah bagaimana agenda media ini terjadi pada waktu pertama kali. Hal ini mempunyai kekuatan penjelas untuk menerangkan mengapa orang-orang, sama-sama menganggap penting suatu isu.
d. Di lain pihak, pada hari yang sama “Suara Pembaruan” memuat tentang dukungan yang kuat terhadap upaya pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap) yang dimotori tokoh-tokoh Kristen Suku Batak. Agenda “Suara Pembaruan” dalam banyak hal mempengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik atau kepentingan isu tertentu bagi publik. Agenda publik mempengaruhi atau berinteraksi ke dalam agenda kebijakan. “Suara pembaruan” lebih mengedepankan berita tentang agenda publik bukan hanya pribadi yang dikonsumsi publik. Maka tidak mengherankan jika “Suara Pembaruan” lebih menyoroti hal-hal yang berhubungan dengan suatu populasi tertentu, masyarakat tertentu ataupun suku tertentu.
a. Teori Penentuan Agenda (Agenda Setting Theory) merupakan teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa dan juga dapat dianggap sebagai kemampuan media massa untuk menyampaikan kepentingan dari berita-berita yang ada didalam agenda mereka terhadap agenda yang ada didalam masyarakat. Berbagai level dari Agenda Setting adalah :
1) Agenda setting tingkat pertama. Pada level ini media menggunakan obyek atau permasalahan untuk mempengaruhi masyarakat. Pada level ini media menyarankan kepada masyarakat apa yang mereka harus pikirkan.
2) Agenda setting tingkat kedua. Pada level ini media memfokuskan diri terhadap karakteristik dari suatu obyek atau masalah tertentu dan media juga menyarankan kepada masyarakat bagaimana mereka harus berpikir terhadap masalah tersebut. Ada dua tipe atribute yang digunakan, kognitif (substansi atau topik) dan afektif (evaluatif atau positif, negatif, netral).
b. Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep penentuan agenda adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal. Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang penentuan agenda adalah:
1) Masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu.
2) Konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain.
c. Pada salah satu edisinya, “Republika” memuat laporan mendalam tentang diadukannya ke polisi seorang tokoh muslim yaitu Presiden PKS Tifatul Sembiring, terkait dengan pelanggaran kampanye pemilu lebih awal dalam demo anti Israel atas serangan ke Jalur Gaza, dengan sudut pandang “membela” Tifatul. Harian “Republika” merupakan tipe Pers Berkualitas. Penerbitan surat kabar ini akan mampu menampilkan cara penyajian yang etis, moralis intelektual. “Republika” sangat meyakini pendapat : kualitas dan kredibilitas media hanya bisa diraih melalui pendekatan profesionalisme secara total. Menurut landasan teori Agenda Setting, “Republika” mampu untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada peristiwa tertentu atau gagasan tertentu sehingga dapat menjadi agenda bagi masyarakat. Agenda itu sendiri harus diformat, proses ini akan memunculkan masalah bagaimana agenda media ini terjadi pada waktu pertama kali. Hal ini mempunyai kekuatan penjelas untuk menerangkan mengapa orang-orang, sama-sama menganggap penting suatu isu.
d. Di lain pihak, pada hari yang sama “Suara Pembaruan” memuat tentang dukungan yang kuat terhadap upaya pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap) yang dimotori tokoh-tokoh Kristen Suku Batak. Agenda “Suara Pembaruan” dalam banyak hal mempengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik atau kepentingan isu tertentu bagi publik. Agenda publik mempengaruhi atau berinteraksi ke dalam agenda kebijakan. “Suara pembaruan” lebih mengedepankan berita tentang agenda publik bukan hanya pribadi yang dikonsumsi publik. Maka tidak mengherankan jika “Suara Pembaruan” lebih menyoroti hal-hal yang berhubungan dengan suatu populasi tertentu, masyarakat tertentu ataupun suku tertentu.
pembaruan dan republika
1. Surat kabar Suara Pembaruan dan Republika dalam isi serta gaya bahasa
a. Suara Pembaruan
1) ”Suara Pembaruan” merupakan surat kabar pertama kali yang berpusat di jakarta dengan nama “Sinar Harapan” yang dikelola oleh PT.Sinar Kasih, tepatnya terbit pertama kali pada sore hari tanggal 27 April 1961. Pada tahun 1986, dimana persuratkabaran Indonesia dalam keadaan terguncang, dan pada saat itu harian umum ini sedang dicabut izin terbitnya oleh pemerintah Orde Baru. Namun selaku pemimpin umum surat kabar ini pada waktu itu HG Rorimpandey, terus berusaha mencari cara untuk bisa menerbitkan “Sinar Harapan” kembali. Akhirnya pada tanggal 4 Februari 1987 setelah melalui negosiasi panjang dengan pihak pemerintah, pengelola diizinkan kembali menerbitkan koran dengan nama baru “Suara Pembaruan” dengan nama penerbit yang baru yakni PT. Media Interaksi Utama dengan susunan personalia redaksi yang baru juga. “Suara Pembaruan” memiliki konsep yang sama dan tidak jauh berbeda dengan koran-koran sebelumnya termasuk logo dan rubrikasinya.
2) Beberapa pihak di internal “Suara Pembaruan” keluar dari manajemen setelah era reformasi, dan setelah itu menerbitkan kembali koran baru dengan nama “Sinar Harapan” , sehingga pada saat ini kedua koran ini yang dasarnya dari akar yang sama bersaing di pasar koran sore. “Suara Pembaruan” sendiri terbit setiap hari dengan edisi Minggu-nya sudah diedarkan di pasar bersamaan dengan edisi Sabtu sore. Edisi tersebut tidak sama seperti edisi harian yang penuh dengan berita berat seperti halnya bidang politik, ekonomi, hukum dan lain-lain, untuk edisi Minggu “Suara Pembaruan” bercorak lebih santai dan soft. Beritanya dikemas lebih ringan untuk bisa menemani akhir pekan para pembacanya. Sejak tahun 2006, “Suara Pembaruan” memiliki kemitraan strategis dengan Globe Media Group, sebuah grup penerbit yang mengelola beberapa media cetak diantaranya koran bisnis ‘Investor Daily’, ‘Majalah Investor’, majalah ‘Globe Asia’, dan koran berbahasa Inggris ‘The Jakarta Globe’. Seperti halnya koran-koran mainstream pada umumnya, “Suara Pembaruan” terbit dalam versi cetak, versi online (www.suarapembaruan.com) dan versi e-paper (epaper.suarapembaruan.com).
3) Peredaran “Suara Pembaruan” meliputi sekitar 85% di Jabodetabek dan 15% di kota-kota lain di Indonesia. Banyak di para kalangan yang menilai bahwa “Suara Pembaruan” merupakan koran sore terbesar yang ada di Indonesia di antara Koran-koran lainnya. Menurut Nielsen ‘Media Research’, profil dari para pembaca “Suara Pembaruan” adalah pria (67%), usia sekitar 30-39 tahun (51%), usia sekitar 20-29 tahun (38%), SES A1, A2 (40%), white collar (56%), blue collar (25%), pendidikan SLTA (58%) dan untuk universitas (25%).
b. Republika.
1) Dalam sejarah surat kabar/koran “Republika” yang merupakan koran nasional yang dilahirkan oleh kalangan komunitas muslim Indonesia dan ditujukan juga bagi publik/kalangan di Indonesia. Penerbitan ini merupakan puncak dari upaya panjang di kalangan umat Islam, khususnya para wartawan profesional muda yang dipimpin oleh ex wartawan Tempo, Zaim Uchrowi yang telah menempuh berbagai langkah. Munculnya Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia yang dapat menembus pembatasan ketat pemerintah untuk izin penerbitan saat itu memungkinkan upaya-upaya tersebut berbuah yang padda akhirnya “Republika” dapat terbit perdana pada 4 Januari 1993.
2) Koran “Republika” terbit di bawah bendera perusahaan PT Abdi Bangsa. Setelah BJ Habibie tidak lagi duduk menjadi presiden dan seiring dengan surutnya kiprah politik ICMI selaku pemegang saham mayoritas PT Abdi Bangsa, pada akhir 2000, mayoritas saham koran ini dimiliki oleh kelompok Mahaka Media. PT Abdi Bangsa selanjutnya menjadi holding company, dan “Republika” berada di bawah bendera PT Republika Media Mandiri yang merupakan salah satu anak perusahaan PT Abdi Bangsa. Di bawah bendera Mahaka Media, kelompok ini juga menerbitkan majalah ‘Golf Digest’, koran berbahasa mandarin ‘Harian Indonesia’, majalah ‘Parents’, majalah ‘a+’, radio ‘Jak FM’, dan ‘JakTV’. Mahaka Media juga melakukan kolaborasi dengan kelompok radio Prambors, terutama radio Female dan Delta.
3) Walau berganti kepemilikan, “Republika” tidak mengalami perubahan visi maupun misi. Namun harus diakui bahwa ada perbedaan gaya jika dibandingkan dengan sebelumnya. Sentuhan bisnis dan independensi “Republika” menjadi lebih kuat. Karena itu, secara bisnis, koran ini terus berkembang. “Republika” menjadi makin profesional dan matang sebagai koran nasional untuk komunitas muslim. Pertama kali terbit tampil dengan “Desain Blok” (modular lay out) yang tidak lazim dan kini telah diikuti oleh semua koran yang ada di Indonesia. ”Republika” pun memperoleh gelar juara pertama Lomba Perwajahan Media Cetak 1993. Tahun 1995, membuka situs surat kabar pertama dan situs berita pertama di Indonesia. Tahun 1997, menjadi yang pertama mengoperasikan Sistem Cetak Jarak Jauh ( SCJJ ). Salah satu koran pertama yang menerbitkan halaman khusus daerah.
4) Pada tanggal 31 Januari 2000, ”Republika” menjadi koran pertama yang melakukan resizing. Pada umumnya koran di Indonesia menggunakan kertas ukuran sembilan kolom. Hal ini terlalu lebar dan tidak ergonomis. Di dunia pada umumnya koran telah berubah ke ukuran tujuh kolom. Agar pembaca tidak kaget, maka ”Republika” memulai perubahannya dengan ukuran delapan kolom. Ketika seluruh koran pada 2005 berubah ke delapan kolom, maka pada 2 Januari 2006 ”Republika” berubah ke tujuh kolom. Pada 2 Januari 2009 koran terbesar di Indonesia juga kemudian berubah ke tujuh kolom sama halnya dengan ”Republika”.
5) Pada tahun 2006 mulai edisi September, ”Republika” memberikan sisipan gratis majalah olah raga ’Arena’. Ini merupakan hal yang pertama pula bagi pers Indonesia, beli koran dapat majalah. Di Amerika Serikat, hal itu sudah lazim. Misalnya The New York Times memberikan sisipan majalah olahraga Play dan majalah umum The New York Times Magazine. ”Republika” juga koran pertama yang sejak awal menjadi perusahaan terbuka dan telah listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Hingga kini, ”Republika” telah mengalami beberapa kali pergantian pemimpin redaksi. Pemimpin redaksi yang pertama adalah Parni Hadi, lalu Andi Makmur Makka, Zaim Uchrowi, Tommy Tamtomo, Yayat Supriyatna, Asro Kamal Rokan, dan saat ini adalah Ikhwanul Kiram Mashuri. Beberapa penghargaan yang telah didapat oleh Harian ”Republika” antara lain, sebagai berikut :
a) 1993: Juara Pertama Lomba Perwajahan Media Cetak.
b) 2005: Koran Terbaik 2004 dari Dewan Pers, yang menilai dari sisi penerapan kaidah jurnalistik.
c) 2006: Koran Terbaik 2005 dari Dewan Pers.
d) 2007: Koran Nasional Terbaik 2006 dari Majalah Cakram, sebuah majalah komunikasi, kehumasan, dan periklanan.
e) Beberapa kali meraih penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa sebagai koran berbahasa Indonesia terbaik, peringkat I maupun peringkat di bawahnya.
f) Penghargaan Perorangan, wartawan-wartawan Republika meraih berbagai macam penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), maupun dari berbagai institusi lainnya.
Beberapa kerjasama yang telah dilakukan Harian ”Republika” dengan penerbitan luar negeri adalah sebagai berikut :
a) 2006: Bekerja sama dengan The New York Times untuk menerbitkan kolom tanya jawab WINNING bersama Jack & Suzy Welch tentang manajemen. Jack Welch adalah orang yang sukses memimpin perusahaan raksasa Amerika Serikat, General Electric. Bukunya yang berjudul Winning menjadi best seller. Judul buku itulah yang kemudian dijadikan nama rubrik kolom tanya jawabnya. Kolom ini diasuh bersama istrinya, mantan pemimpin redaksi majalah manajemen.
b) 2006: Bekerja sama dengan koran terbesar di Malaysia, ’Berita Harian’. ”Republika” memberi ruang satu halaman untuk Berita Harian dan satu halaman untuk The New Straits Times, koran berbahasa Inggris yang masih satu grup dengan ’Berita Harian’. Masing-masing sekali dalam sepekan. ”Republika” juga terbit di ’Berita Harian’, sepekan terbit dua kali yang masing-masing satu halaman.
c) 2006: Menerbitkan majalah World Cup 2006. Majalah ini menjadi panduan bagi penikmat sepak bola dalam menyambut Piala Dunia 2006 di Jerman.
d) 2006: Menerbitkan majalah Cahaya Ramadhan. Majalah ini menjadi panduan dalam menjalani ibadah puasa.
e) 2006: Menerbitkan majalah Panduan Haji. Majalah panduan ibadah haji ini dibagikan gratis kepada seluruh jamaah haji Indonesia pada tahun itu yang berjumlah sekitar 200 ribu orang.
a. Suara Pembaruan
1) ”Suara Pembaruan” merupakan surat kabar pertama kali yang berpusat di jakarta dengan nama “Sinar Harapan” yang dikelola oleh PT.Sinar Kasih, tepatnya terbit pertama kali pada sore hari tanggal 27 April 1961. Pada tahun 1986, dimana persuratkabaran Indonesia dalam keadaan terguncang, dan pada saat itu harian umum ini sedang dicabut izin terbitnya oleh pemerintah Orde Baru. Namun selaku pemimpin umum surat kabar ini pada waktu itu HG Rorimpandey, terus berusaha mencari cara untuk bisa menerbitkan “Sinar Harapan” kembali. Akhirnya pada tanggal 4 Februari 1987 setelah melalui negosiasi panjang dengan pihak pemerintah, pengelola diizinkan kembali menerbitkan koran dengan nama baru “Suara Pembaruan” dengan nama penerbit yang baru yakni PT. Media Interaksi Utama dengan susunan personalia redaksi yang baru juga. “Suara Pembaruan” memiliki konsep yang sama dan tidak jauh berbeda dengan koran-koran sebelumnya termasuk logo dan rubrikasinya.
2) Beberapa pihak di internal “Suara Pembaruan” keluar dari manajemen setelah era reformasi, dan setelah itu menerbitkan kembali koran baru dengan nama “Sinar Harapan” , sehingga pada saat ini kedua koran ini yang dasarnya dari akar yang sama bersaing di pasar koran sore. “Suara Pembaruan” sendiri terbit setiap hari dengan edisi Minggu-nya sudah diedarkan di pasar bersamaan dengan edisi Sabtu sore. Edisi tersebut tidak sama seperti edisi harian yang penuh dengan berita berat seperti halnya bidang politik, ekonomi, hukum dan lain-lain, untuk edisi Minggu “Suara Pembaruan” bercorak lebih santai dan soft. Beritanya dikemas lebih ringan untuk bisa menemani akhir pekan para pembacanya. Sejak tahun 2006, “Suara Pembaruan” memiliki kemitraan strategis dengan Globe Media Group, sebuah grup penerbit yang mengelola beberapa media cetak diantaranya koran bisnis ‘Investor Daily’, ‘Majalah Investor’, majalah ‘Globe Asia’, dan koran berbahasa Inggris ‘The Jakarta Globe’. Seperti halnya koran-koran mainstream pada umumnya, “Suara Pembaruan” terbit dalam versi cetak, versi online (www.suarapembaruan.com) dan versi e-paper (epaper.suarapembaruan.com).
3) Peredaran “Suara Pembaruan” meliputi sekitar 85% di Jabodetabek dan 15% di kota-kota lain di Indonesia. Banyak di para kalangan yang menilai bahwa “Suara Pembaruan” merupakan koran sore terbesar yang ada di Indonesia di antara Koran-koran lainnya. Menurut Nielsen ‘Media Research’, profil dari para pembaca “Suara Pembaruan” adalah pria (67%), usia sekitar 30-39 tahun (51%), usia sekitar 20-29 tahun (38%), SES A1, A2 (40%), white collar (56%), blue collar (25%), pendidikan SLTA (58%) dan untuk universitas (25%).
b. Republika.
1) Dalam sejarah surat kabar/koran “Republika” yang merupakan koran nasional yang dilahirkan oleh kalangan komunitas muslim Indonesia dan ditujukan juga bagi publik/kalangan di Indonesia. Penerbitan ini merupakan puncak dari upaya panjang di kalangan umat Islam, khususnya para wartawan profesional muda yang dipimpin oleh ex wartawan Tempo, Zaim Uchrowi yang telah menempuh berbagai langkah. Munculnya Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia yang dapat menembus pembatasan ketat pemerintah untuk izin penerbitan saat itu memungkinkan upaya-upaya tersebut berbuah yang padda akhirnya “Republika” dapat terbit perdana pada 4 Januari 1993.
2) Koran “Republika” terbit di bawah bendera perusahaan PT Abdi Bangsa. Setelah BJ Habibie tidak lagi duduk menjadi presiden dan seiring dengan surutnya kiprah politik ICMI selaku pemegang saham mayoritas PT Abdi Bangsa, pada akhir 2000, mayoritas saham koran ini dimiliki oleh kelompok Mahaka Media. PT Abdi Bangsa selanjutnya menjadi holding company, dan “Republika” berada di bawah bendera PT Republika Media Mandiri yang merupakan salah satu anak perusahaan PT Abdi Bangsa. Di bawah bendera Mahaka Media, kelompok ini juga menerbitkan majalah ‘Golf Digest’, koran berbahasa mandarin ‘Harian Indonesia’, majalah ‘Parents’, majalah ‘a+’, radio ‘Jak FM’, dan ‘JakTV’. Mahaka Media juga melakukan kolaborasi dengan kelompok radio Prambors, terutama radio Female dan Delta.
3) Walau berganti kepemilikan, “Republika” tidak mengalami perubahan visi maupun misi. Namun harus diakui bahwa ada perbedaan gaya jika dibandingkan dengan sebelumnya. Sentuhan bisnis dan independensi “Republika” menjadi lebih kuat. Karena itu, secara bisnis, koran ini terus berkembang. “Republika” menjadi makin profesional dan matang sebagai koran nasional untuk komunitas muslim. Pertama kali terbit tampil dengan “Desain Blok” (modular lay out) yang tidak lazim dan kini telah diikuti oleh semua koran yang ada di Indonesia. ”Republika” pun memperoleh gelar juara pertama Lomba Perwajahan Media Cetak 1993. Tahun 1995, membuka situs surat kabar pertama dan situs berita pertama di Indonesia. Tahun 1997, menjadi yang pertama mengoperasikan Sistem Cetak Jarak Jauh ( SCJJ ). Salah satu koran pertama yang menerbitkan halaman khusus daerah.
4) Pada tanggal 31 Januari 2000, ”Republika” menjadi koran pertama yang melakukan resizing. Pada umumnya koran di Indonesia menggunakan kertas ukuran sembilan kolom. Hal ini terlalu lebar dan tidak ergonomis. Di dunia pada umumnya koran telah berubah ke ukuran tujuh kolom. Agar pembaca tidak kaget, maka ”Republika” memulai perubahannya dengan ukuran delapan kolom. Ketika seluruh koran pada 2005 berubah ke delapan kolom, maka pada 2 Januari 2006 ”Republika” berubah ke tujuh kolom. Pada 2 Januari 2009 koran terbesar di Indonesia juga kemudian berubah ke tujuh kolom sama halnya dengan ”Republika”.
5) Pada tahun 2006 mulai edisi September, ”Republika” memberikan sisipan gratis majalah olah raga ’Arena’. Ini merupakan hal yang pertama pula bagi pers Indonesia, beli koran dapat majalah. Di Amerika Serikat, hal itu sudah lazim. Misalnya The New York Times memberikan sisipan majalah olahraga Play dan majalah umum The New York Times Magazine. ”Republika” juga koran pertama yang sejak awal menjadi perusahaan terbuka dan telah listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Hingga kini, ”Republika” telah mengalami beberapa kali pergantian pemimpin redaksi. Pemimpin redaksi yang pertama adalah Parni Hadi, lalu Andi Makmur Makka, Zaim Uchrowi, Tommy Tamtomo, Yayat Supriyatna, Asro Kamal Rokan, dan saat ini adalah Ikhwanul Kiram Mashuri. Beberapa penghargaan yang telah didapat oleh Harian ”Republika” antara lain, sebagai berikut :
a) 1993: Juara Pertama Lomba Perwajahan Media Cetak.
b) 2005: Koran Terbaik 2004 dari Dewan Pers, yang menilai dari sisi penerapan kaidah jurnalistik.
c) 2006: Koran Terbaik 2005 dari Dewan Pers.
d) 2007: Koran Nasional Terbaik 2006 dari Majalah Cakram, sebuah majalah komunikasi, kehumasan, dan periklanan.
e) Beberapa kali meraih penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa sebagai koran berbahasa Indonesia terbaik, peringkat I maupun peringkat di bawahnya.
f) Penghargaan Perorangan, wartawan-wartawan Republika meraih berbagai macam penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), maupun dari berbagai institusi lainnya.
Beberapa kerjasama yang telah dilakukan Harian ”Republika” dengan penerbitan luar negeri adalah sebagai berikut :
a) 2006: Bekerja sama dengan The New York Times untuk menerbitkan kolom tanya jawab WINNING bersama Jack & Suzy Welch tentang manajemen. Jack Welch adalah orang yang sukses memimpin perusahaan raksasa Amerika Serikat, General Electric. Bukunya yang berjudul Winning menjadi best seller. Judul buku itulah yang kemudian dijadikan nama rubrik kolom tanya jawabnya. Kolom ini diasuh bersama istrinya, mantan pemimpin redaksi majalah manajemen.
b) 2006: Bekerja sama dengan koran terbesar di Malaysia, ’Berita Harian’. ”Republika” memberi ruang satu halaman untuk Berita Harian dan satu halaman untuk The New Straits Times, koran berbahasa Inggris yang masih satu grup dengan ’Berita Harian’. Masing-masing sekali dalam sepekan. ”Republika” juga terbit di ’Berita Harian’, sepekan terbit dua kali yang masing-masing satu halaman.
c) 2006: Menerbitkan majalah World Cup 2006. Majalah ini menjadi panduan bagi penikmat sepak bola dalam menyambut Piala Dunia 2006 di Jerman.
d) 2006: Menerbitkan majalah Cahaya Ramadhan. Majalah ini menjadi panduan dalam menjalani ibadah puasa.
e) 2006: Menerbitkan majalah Panduan Haji. Majalah panduan ibadah haji ini dibagikan gratis kepada seluruh jamaah haji Indonesia pada tahun itu yang berjumlah sekitar 200 ribu orang.
Langganan:
Postingan (Atom)
